.

Jumat, 04 Desember 2009

Ikan Cupang, Bukan Sekedar Untuk Aduan

Diposkan oleh maswotto

Melihat perkembangan dan banyaknya permintaan ikan hias, akhirnya muncul sentra produksi ikan cupang di Slipi dan Kota Bambu, Jakarta Barat. Di Slipi, Jakarta Barat, hampir seluruh penjual ikan hias ini adalah pembudidaya ikan jenis cupang hias, khususnya jenis slayerJumlahnya saat ini sekitar 117 orang dan bisa terus bertambah. Walau demikian, akhir-akhir ini jumlah produksi petani mengalami penurunan, namun dari sisi kualitas cukup meningkat. Kendala yang dihadapi adalah sistem budidaya yang masih tradisional, minimnya informasi pasar ekspor, dan sistem pemasaran yang belum teratur. Sebenarnya, prospek ikan cupang untuk ekspor cukup tinggi, sementara jumlah petani masih sedikit. Selama ini, pemasok ikan hias untuk pasar ekspor berasal dari Singapura, Thailand, dan Malaysia. Untuk di dalam negeri, sejak gerai ikan cupang pertama di Pondok Indah, Jakarta Selatan didirikan pada tahun 1994, kecenderungan jumlah penggemar ikan cupang slayer terus meningkat. Susunan warnanya yang spesifik, bentuk tubuhnya yang indah, serta goyangan ekornya yang menawan, telah membuat banyak orang terpesona. Daya tariknya telah membuat para pengagum dan penggemarnya tak bosan-bosan untuk memperhatikan tingkahnya. Penggemarnya juga tidak merasa rugi untuk menyaksikan kontes-kontes yang diselenggarakan khusus untuknya. Dialah ikan cupang, yang akhir-akhir ini pamornya terus meroket. Masyarakat awam berpendapat kalau namanya cupang, pasti merupakan ikan aduan. Padahal sebenarnya pendapat tersebut tidak seluruhnya benar. Menurut Bambang Eka Perkasa dalam bukunya “Merawat Cupang Hias untuk Kontes” (Desember 2000), cupang yang termasuk dalam keluarga Betta memang memiliki sifat dasar yang agresif sehingga antara jantan dewasa selalu terjadi perkelahian. Sifat agresif tersebut dominan dimiliki beberapa spesies Betta dari alam. Di antaranya, Betta imbellis, Betta smaragdina, Betta coccina dan Betta foerschi. Untuk ikan cupang hias, secara umum bisa dibedakan menjadi dua, yaitu ikan cupang jenis ekor pendek dan jenis ekor panjang atau slayer. Dalam perkembangannya, jenis yang terakhir inilah yang semakin digemari oleh penggemar ikan hias. Pengembangan usaha ini tidak memerlukan lahan yang luas, sehingga masyarakat kota yang mempunyai lahan sempit bisa membuka bisnis ini. Asal tahu saja, dengan membudidayakan 10 pasang induk ikan cupang, dalam waktu tiga bulan, kita bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 3,64 juta. Dan perlu diingat, untuk budi daya ikan hias ini, cukup dengan akuarium ukuran 100 cm x 60 cm x 40 cm. Atau kalau ingin permanen, bisa menyediakan kolam dengan ukuran 200 cm x 150 cm x 30 cm. Potensi usaha perikanan tidak selalu dimonopoli oleh wilayah-wilayah di pedesaan dengan areal yang luas. Namun, diperkotaan pun dapat dijadikan wilayah yang potensial untuk usaha budidaya dan pemasaran ikan hias yang mampu menjangkau pangsa pasar manca negara ini. Menang Kontes, Harga Tinggi Di sentra ikan hias, tampilan cupang hias cukup menarik perhatian. Barangkali karena warnanya yang menarik. Dan belakangan ini satwa air ini sedang naik daun. Penggemarnya pun tidak terbatas dari kelas gedongan saja, namun juga kaum pinggiran, mulai anak-anak hingga kakek-kakek. Di mana-mana orang mengoleksi dan berburu jenis (warna) baru. Cupang, khususnya yang jantan, mempunyai bentuk tubuh yang langsing, proporsional, sirip yang panjang, dan warna yang lebih mengkilat. Oleh sebab itu, tidak heran bila banyak yang ”jatuh cinta”. Yang menjadi ciri khas ikan ini adalah ia paling suka memamerkan keindahan ekornya. Apalagi jika di dalam akuarium atau toples ditaruh betina, maka serta merta ekornya mengembang indah. Di samping sebagai pajangan atau pemuas hobi, cupang juga sering dilombakan dalam sebuah kontes. Berbagai ikan cupang dari berbagai penjuru daerah biasanya akan ditandingkan untuk melihat keindahannya dalam kontes tersebut. Pemenangnya, pasti akan memiliki nilai jual yang tinggi. Bagi cupang yang memenangkan kontes, otomatis akan menaikkan gengsi sang pemilik dan mendongkrak harga jualnya. Keturunannya (anak cupang) juga bakal laku di pasaran dan untung sudah di depan mata. Kontes ikan hias seperti ini sudah sering diadakan di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang dan Semarang. Belakangan, kontes juga mulai berkembang di Padang (Sumatra) dan Banjarmasin (Kalimantan). Dengan semakin banyaknya kontes yang dilakukan, makin populer pula ikan tersebut. Di Jakarta sendiri, Pemkodya Jakarta Barat melalui Suku Dinas (Sudin) Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat bekerjasaman dengan kelompok usaha pembudidaya ikan cupang Kota Bambu dan Slipi (Kobapi) pernah mengadakan kontes ikan cupang hias. Kontes ikan diikuti para hobies ikan cupang hias, para kolektor, pengusaha budidaya dan pedagang dari Provinsi DKI Jakarta dan beberapa daerah seperti Bandung, dan Palembang. Ikan cupang hias yang dilombakan meliputi 3 kategori, serit, halfmoon, dan kategori plakat. Untuk kategori serit kelas senior berukuran 5,5 cm ke atas yang terdiri dari warna dasar merah, warna maskot, warna kombinasi dan warna bebas. Sedangkan untuk kelas yunior berukuran 4-5 cm terdiri dari warna dasar merah, warna maskot, warna kombinasi dan warna bebas.sumber www.infokomunitas.com